
Oleh: Drs. Andriwifa, M. Si.
(Praktisi Konstruksi Gedung & Magister Sains Manajemen Sumberdaya Alam dan Lingkungan)
Pendahuluan
Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda kawasan Salareh Aie Raya bukan sekadar bencana alam, melainkan sebuah sinyal bahwa kita memerlukan cara baru dalam berdampingan dengan alam. Lahan pascabencana yang kini dipenuhi lumpur berbatu seringkali dianggap “lahan mati”. Namun, dengan pendekatan rekayasa geotekstil dan teknologi bangunan amfibi, kita dapat mengubah kawasan DAS yang porak-poranda ini menjadi pemukiman tangguh tanpa harus mencabut akar sosial masyarakat dari tanah ulayatnya.
“Menyembuhkan” Lahan dengan Teknologi Geosintetik
Tantangan utama di Salareh Aie Raya adalah tanah yang jenuh air (lumpur) dan tidak stabil. Sebelum membangun, kita harus melakukan penyehatan lahan (soil improvement) dengan skala kawasan:
Geotekstil sebagai Filter: Penggunaan geotekstil non-woven memungkinkan air pori keluar dari lumpur tanpa membawa sedimen, sehingga tanah berangsur stabil dan padat.
Platform Matras Geogrid: Menghamparkan geogrid di atas lapisan geotekstil menciptakan sebuah “matras” yang mampu menahan beban bangunan di atas lahan lunak, mencegah penurunan bangunan yang tidak merata (differential settlement).
Hunian Amfibi: Berdamai dengan Dinamika Sungai
Konsep Hunian Tetap (Huntap) bagi Orang Terdampak (OTD) tidak harus selalu berupa relokasi ke perbukitan yang jauh. Bangunan amfibi menawarkan solusi:
Mekanisme Apung: Bangunan didesain memiliki unit apung di bawahnya. Saat debit sungai naik, rumah akan ikut terangkat secara vertikal, dan kembali duduk di posisinya saat air surut.
Keamanan Struktur: Dengan tiang pemandu (guide posts) yang terintegrasi pada platform geotekstil, bangunan tetap stabil dan tidak hanyut terbawa arus banjir bandang.
Sinergi dengan Manajemen Lingkungan dan Tanah Ulayat
Salah satu keunggulan terbesar dari inovasi ini adalah penghormatan terhadap tata ruang dan kepemilikan lahan:
Pelestarian Sempadan Sungai: Penataan ini tidak menutup permukaan tanah dengan beton masif. Lahan tetap permeabel (menyerap air), menjaga fungsi hidrologi DAS Salareh Aie Raya.
Kepastian Sosial di Lahan Komunal: Masyarakat tetap bisa tinggal di lahan milik komunal/ulayat mereka. Hal ini meminimalisir potensi konflik agraria yang sering terjadi pada proyek relokasi konvensional.
Manfaat bagi Pemerintah Daerah (Pemda Agam)
Implementasi penataan kawasan ini memberikan efisiensi jangka panjang:
Efisiensi Anggaran: Mengurangi biaya pengadaan lahan relokasi yang mahal dan infrastruktur jalan baru.
Mitigasi Bencana Aktif: Pemda tidak lagi hanya merespons bencana, tetapi menyediakan infrastruktur yang “kebal” terhadap bencana.
Model Nasional: Salareh Aie Raya dapat menjadi pilot project nasional untuk penanganan pemukiman di zona DAS yang adaptif terhadap perubahan iklim.
Kesimpulan
Kita tidak bisa melarang air untuk mengalir, namun kita bisa mengatur bagaimana kita berdiri di atasnya. Dengan memanfaatkan ruang DAS yang lebar di Salareh Aie Raya, integrasi geotekstil dan bangunan amfibi adalah jalan tengah yang paling rasional secara teknis, ekonomis, dan ekologis. (*)
